Panduan eSIM 2026

Festival Jepang Bagian 2

CTS

Nguyen Quoc Thao

2025.04.02

Waktu membaca: 5 menit
Festival Jepang Bagian 2

Festival Setsubun (Festival Lempar Kacang): Ini adalah festival penting dalam budaya Jepang, diadakan setiap tahun pada tanggal 3 Februari, menandai transisi antara musim dingin dan musim semi. Festival ini melambangkan pengusiran roh jahat dan nasib buruk dari tahun sebelumnya serta menyambut keberuntungan dan berkah untuk tahun yang baru.

Setsubun: Japan's Beloved Bean-Throwing Holiday - Savvy Tokyo

Aktivitas utama selama festival Setsubun:

  • Melempar Kacang (Mamemaki): Ini adalah aktivitas yang paling menonjol dan populer. Kacang kedelai panggang dilemparkan ke luar rumah atau ke orang yang berpakaian sebagai "oni" (iblis/raksasa) sambil berteriak "Oni wa soto! Fuku wa uchi!" (Iblis keluar! Keberuntungan masuk!).

Learn about Setsubun- Bean Throwing Festival

  • Makan Kacang: Secara tradisional, orang makan kacang sebanyak usia mereka ditambah satu untuk kesehatan dan keberuntungan di tahun yang akan datang.

Let's Talk About Natto, Japan's Best Superfood - Sakuraco

  • Menggantung Kepala Sarden dan Daun Holly: Orang-orang menggantung kepala sarden kering dan daun holly di pintu masuk untuk mengusir roh jahat.

What is Setsubun? Mamemaki? A traditional Bean-Throwing Festival in Japan |  Arigato Travel

  • Tarian Barongsai: Beberapa tempat juga menampilkan tarian barongsai untuk mendoakan keberuntungan dan kemakmuran.

Lion Dancer

  • Festival Kuil dan Kuil Shinto: Kuil dan kuil Shinto sering mengadakan festival Setsubun besar dengan upacara doa dan pelemparan kacang skala besar, menarik banyak pengunjung.

Makna Festival Setsubun:

Festival Setsubun bukan hanya aktivitas yang menyenangkan tetapi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Ini mencerminkan keinginan orang-orang untuk hidup damai, bahagia, mengusir hal-hal buruk dan menantikan hal-hal baik di tahun yang baru.

Kanamara Matsuri:

Kanamara Matsuri - Wikipedia

Kanamara Matsuri, juga dikenal sebagai "Festival Falus Baja," adalah festival Shinto yang unik dan terkenal yang diadakan setiap tahun pada hari Minggu pertama bulan April di Kuil Kanayama di Kawasaki, Jepang.

Asal dan Makna:

Festival ini berasal dari periode Edo dan dikaitkan dengan Kuil Kanayama, tempat para pekerja seks dulunya berdoa untuk perlindungan dari penyakit, terutama infeksi menular seksual. Saat ini, festival ini memiliki makna yang lebih luas, merayakan kesuburan, kesehatan seksual, dan berdoa untuk pernikahan yang bahagia serta kelahiran anak.

Simbol dan Aktivitas:

Falus adalah simbol utama festival ini, direpresentasikan dalam berbagai bentuk:

  • Mikoshi: Puncaknya adalah parade mikoshi (kuil portabel) yang menampilkan tiga falus raksasa yang terbuat dari kayu atau logam, melambangkan kesuburan dan kemakmuran.

What is a Mikoshi? The Festival Tradition of Carrying a God - Sakuraco

  • Dekorasi dan Barang: Falus digambarkan pada banyak dekorasi dan suvenir seperti jimat, permen, topeng, lilin, dan bahkan sayuran yang diukir menjadi bentuk falus.

20 Stylish Global Home Decor Brands You Haven't Discovered Yet | Apartment  Therapy

  • Pertunjukan dan Musik: Festival ini mencakup pertunjukan musik, tarian tradisional, dan hiburan lainnya yang berkaitan dengan tema seks dan kesuburan.

Partisipasi dan Keberagaman:

Kanamara Matsuri menarik banyak penduduk lokal dan turis internasional. Dalam beberapa tahun terakhir, festival ini juga menarik minat dari komunitas LGBT dan pendukung hak-hak seksual, menjadikannya acara yang merayakan keberagaman dan penerimaan dalam seksualitas dan hubungan.

Signifikansi Budaya dan Sosial:

Meskipun penampilannya tampak kontroversial, Kanamara Matsuri memiliki signifikansi budaya dan sosial yang mendalam. Ini mencerminkan keterbukaan dan kejujuran orang Jepang dalam membahas seksualitas, sekaligus membantu meningkatkan kesadaran tentang kesehatan seksual, pencegahan penyakit menular seksual, dan mempromosikan penghormatan terhadap hubungan dan identitas seksual yang berbeda.

Yuki Matsuri (Festival Salju Sapporo):

Everything You Need to Know About the 2025 Sapporo Snow Festival | Rakuten  Travel

Yuki Matsuri, juga dikenal sebagai Festival Salju Sapporo, adalah salah satu acara musim dingin paling spektakuler dan terkenal di Jepang. Diadakan setiap tahun pada bulan Februari di kota Sapporo, Hokkaido, festival ini mengubah kota menjadi negeri ajaib musim dingin dengan patung-patung salju dan es yang tak terhitung jumlahnya.

Sorotan:

  • Patung Salju dan Es: Daya tarik utamanya adalah ratusan patung salju dan es raksasa yang dibuat oleh seniman berbakat dari seluruh dunia. Karya-karya ini bervariasi ukurannya, mulai dari replika landmark terkenal dunia hingga karakter kartun dan tema abstrak. Pada malam hari, patung-patung ini diterangi dengan cemerlang, menciptakan pemandangan yang berkilauan dan ajaib.

Ice and snow sculptures - CSMonitor.com

  • Aktivitas Lainnya: Selain patung-patung, festival ini menawarkan banyak aktivitas menarik lainnya seperti seluncur salju, seluncur es, perang bola salju, menikmati masakan lokal, dan menghadiri pertunjukan musik dan seni.
  • Lokasi: Festival ini diadakan di tiga lokasi utama: Taman Odori, Susukino, dan Tsudome. Setiap lokasi memiliki karakteristiknya sendiri dan menawarkan pengalaman yang berbeda kepada pengunjung.

Signifikansi: Yuki Matsuri bukan hanya acara budaya dan hiburan penting bagi Jepang tetapi juga kesempatan bagi masyarakat dan wisatawan dari seluruh dunia untuk bertemu, bersosialisasi, dan menikmati suasana musim dingin yang indah di Sapporo.

Hadaka Matsuri (Festival Telanjang): Diadakan setiap tahun pada bulan Februari di Okayama, festival ini melibatkan ribuan pria yang hanya mengenakan fundoshi (cawat). Mereka berlomba untuk menangkap tongkat kayu keberuntungan (shingi) yang dilemparkan oleh seorang pendeta.

Japan aging: Women's participation in 'naked festival' a sign of how aging  is forcing changes to male-centric traditions | CNN

Selain festival yang disebutkan di atas, Jepang memiliki banyak festival tradisional lainnya yang diadakan di berbagai daerah. Setiap festival memiliki keunikan tersendiri, mencerminkan keragaman dan kekayaan budaya Jepang.

Festival Utama dan Populer Nasional:

  • Shogatsu (正月) - Tahun Baru (Januari) Ini adalah festival terbesar dan terpenting tahun ini bagi orang Jepang, biasanya berlangsung dari tanggal 1 hingga 3 Januari, meskipun suasana meriah sering berlanjut hingga minggu pertama Januari. Aktivitas utama selama Shogatsu:

    • Mendekorasi Rumah: Orang-orang mendekorasi rumah mereka dengan benda-benda keberuntungan seperti Kadomatsu (dekorasi pinus di pintu masuk), Shimekazari (dekorasi tali jerami di pintu masuk), dan Kagamimochi (kue beras bertumpuk).
    • Mengunjungi Kuil dan Kuil Shinto (Hatsumode): Orang-orang mengunjungi kuil dan kuil Shinto untuk berdoa demi tahun baru yang damai, beruntung, dan sukses. Mereka juga mengambil ramalan Omikuji untuk melihat keberuntungan mereka selama setahun.
    • Makan Makanan Tradisional (Osechi Ryori): Osechi Ryori adalah hidangan khusus yang disiapkan untuk Tahun Baru, sering disajikan dalam kotak pernis bertingkat. Setiap hidangan memiliki makna simbolis untuk keberuntungan, kesehatan, dan umur panjang.
    • Bermain Permainan Tradisional: Permainan tradisional seperti Hanetsuki (battledore), Takoage (menerbangkan layang-layang), dan Karuta (permainan kartu) sering dimainkan selama Tahun Baru.
    • Memberi Hadiah Uang (Otoshidama): Orang dewasa biasanya memberi hadiah uang (Otoshidama) kepada anak-anak selama Tahun Baru.
    • Mengirim Kartu Tahun Baru (Nengajo): Orang Jepang memiliki kebiasaan mengirim kartu Tahun Baru (Nengajo) kepada kerabat dan teman.
    • Mendengarkan Lonceng Joya no Kane: Pada Malam Tahun Baru, kuil-kuil membunyikan lonceng mereka 108 kali (Joya no Kane) untuk mengusir kejahatan tahun lama dan menyambut hal-hal baik di tahun baru. Makna Shogatsu: Shogatsu adalah kesempatan bagi orang Jepang untuk berkumpul dengan keluarga, mengenang leluhur, dan berdoa untuk tahun baru yang damai dan bahagia. Ini juga waktu bagi semua orang untuk beristirahat, bersantai, dan menikmati suasana meriah.
  • Setsubun (節分) - Festival Kacang (3 atau 4 Februari): Menandai transisi antara musim dingin dan musim semi. Orang Jepang melempar kacang kedelai panggang (Mamemaki) untuk mengusir iblis dan mengundang keberuntungan ke rumah mereka. Anak-anak sering menikmati melempar kacang ke seseorang yang berpakaian seperti oni (iblis).

  • Hinamatsuri (雛祭り) - Festival Boneka (3 Maret): Didedikasikan untuk anak perempuan, berdoa untuk kesehatan dan kebahagiaan mereka. Keluarga memajang boneka Hina tradisional (Hina Ningyo) dan menikmati makanan khusus seperti sushi berbentuk persegi (Chirashizushi) dan sup kerang (Ushiojiru).

  • Hanami (花見) - Festival Melihat Bunga Sakura (Akhir Maret - Awal April): Saat bunga sakura (Sakura) mekar, orang Jepang berkumpul di bawah pohon untuk melihat bunga, piknik, dan menikmati suasana musim semi. Ini adalah kebiasaan yang sangat disukai.

  • Kodomo no Hi (子供の日) - Hari Anak (5 Mei): Hari Anak, juga dikenal sebagai Kodomo no Hi, awalnya dirayakan sebagai Hari Laki-laki (Tango no Sekku) pada tanggal 5 Mei setiap tahun. Namun, seiring waktu, itu berkembang menjadi hari libur nasional untuk menghormati semua anak, baik laki-laki maupun perempuan, pada tahun 1948. Makna dan Simbol: Hari ini membawa banyak makna dan simbol yang mendalam, mencerminkan keinginan orang tua dan masyarakat untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan anak-anak. Beberapa simbol menonjol meliputi:

    • Layang-layang Ikan Koi (Koinobori): Bendera warna-warni ini, sering menggambarkan ikan koi berenang melawan arus, dikibarkan di luar rumah untuk melambangkan kekuatan, ketekunan, dan kemampuan anak laki-laki untuk mengatasi kesulitan. Ikan koi dipilih karena kemampuannya berenang kuat melawan arus, melambangkan tekad dan kesuksesan.
    • Boneka Samurai (Musha Ningyo): Boneka-boneka ini, sering mengenakan baju zirah dan helm samurai, dipajang di dalam ruangan untuk menginspirasi anak laki-laki dengan keberanian, kehormatan, dan kekuatan. Mereka mewakili cita-cita prajurit samurai, dihormati karena kesetiaan, keberanian, dan keterampilan tempur mereka.
    • Kashiwa Mochi (Kue Beras Daun Oak): Jenis kue beras ini, dibungkus dengan daun oak, sering dimakan saat Kodomo no Hi. Daun oak melambangkan kemakmuran dan umur panjang, karena daun tua tidak gugur sampai daun baru tumbuh, melambangkan kelangsungan generasi.
    • Chimaki (Pangsit Nasi Kukus): Hidangan manis ini, terbuat dari beras ketan yang dibungkus daun bambu, juga populer saat Kodomo no Hi di beberapa daerah di Jepang. Ini melambangkan kesehatan dan kebahagiaan yang baik.
    • Helm Kabuto: Beberapa keluarga memajang Kabuto, helm samurai tradisional, sebagai simbol perlindungan dan kekuatan untuk anak laki-laki. Aktivitas Perayaan: Pada Kodomo no Hi, keluarga sering menghabiskan waktu bersama, berpartisipasi dalam kegiatan meriah, dan menikmati makanan tradisional. Beberapa kegiatan populer meliputi:
    • Festival dan Parade: Banyak komunitas menyelenggarakan festival dan parade dengan musik, pertunjukan tari, dan kegiatan lainnya untuk anak-anak.
    • Permainan Tradisional: Anak-anak sering bermain permainan tradisional seperti menerbangkan layang-layang, Kendama (sejenis permainan cangkir dan bola), dan Koma (gasing).
    • Mandi Iris (Shobu-yu): Beberapa keluarga memiliki tradisi mandi air panas dengan daun iris, yang diyakini memiliki khasiat untuk mengusir roh jahat dan membawa kesehatan yang baik.
    • Menikmati Makanan Khusus: Keluarga biasanya menyiapkan dan menikmati makanan tradisional seperti Kashiwa Mochi, Chimaki, dan hidangan lainnya. Kodomo no Hi adalah hari libur penting di Jepang, tidak hanya menghormati anak-anak tetapi juga berfungsi sebagai kesempatan bagi keluarga untuk berkumpul, mengekspresikan cinta, dan mendoakan yang terbaik bagi anak-anak mereka.
  • Tanabata (七夕) - Festival Bintang (7 Juli): Berdasarkan kisah romantis dewa Orihime (bintang Vega) dan Hikoboshi (bintang Altair). Orang-orang menulis keinginan di secarik kertas kecil (Tanzaku) dan menggantungnya di pohon bambu untuk berdoa.

  • Obon (お盆) - Festival Leluhur (Pertengahan Agustus, bervariasi menurut wilayah): Ini adalah kesempatan untuk mengenang leluhur dan orang yang telah meninggal. Keluarga biasanya membersihkan makam, membuat persembahan, dan mengadakan kegiatan budaya tradisional. Tarian Awa Odori adalah bagian penting dari Obon di beberapa wilayah.

  • Shichi-Go-San (七五三) - Festival Tujuh-Lima-Tiga (15 November): Untuk anak laki-laki berusia 3 dan 5 tahun, dan anak perempuan berusia 3 dan 7 tahun. Orang tua membawa anak-anak mereka ke kuil untuk berdoa demi kesehatan dan pertumbuhan yang baik. Anak-anak sering mengenakan pakaian tradisional yang menggemaskan.

Festival Regional yang Khas:

  • Gion Matsuri (祇園祭) - Kyoto (Juli): Salah satu dari tiga festival terbesar di Jepang, Gion Matsuri juga dikenal sebagai salah satu festival paling terkenal dan penting di Kyoto, bahkan di seluruh negeri. Festival ini berlangsung sepanjang Juli, menarik jutaan pengunjung dari seluruh dunia untuk merasakan suasana dan budaya tradisional Jepang yang unik. Sorotan Gion Matsuri:

    • Yamaboko Junko (山鉾巡行): Ini adalah acara utama dan paling menonjol dari festival, yang berlangsung pada tanggal 17 dan 24 Juli. Selama acara ini, pelampung besar yang disebut "yamaboko" (山鉾) diarak melalui jalan-jalan Kyoto. Pelampung ini dihias dengan mewah dengan karya seni, simbol, dan ornamen tradisional. Setiap pelampung mewakili area atau asosiasi lingkungan yang berbeda di dalam kota.
    • Yoiyama (宵山): Pada malam sebelum Yamaboko Junko (dari 14-16 Juli dan 21-23 Juli), jalanan di sekitar rute parade dipenuhi dengan kedai makanan, kerajinan tangan, dan hiburan tradisional. Ini adalah waktu yang tepat untuk menikmati makanan jalanan Jepang dan membenamkan diri dalam suasana festival.
    • Mikoshi Arai (神輿洗い): Pada tanggal 10 Juli [Lihat catatan di atas], mikoshi (神輿) - kuil portabel yang lebih kecil yang membawa dewa-dewi - dibawa ke Sungai Kamo untuk dimurnikan dalam upacara tradisional. Ritual ini diyakini membawa keberuntungan dan kemakmuran bagi kota.
    • Acara Lain: Selain acara utama, Gion Matsuri mencakup banyak kegiatan lain sepanjang Juli, seperti pertunjukan musik dan tari tradisional, kompetisi, dan kegiatan budaya lainnya. Asal dan Makna: Gion Matsuri berasal dari abad ke-9, awalnya diadakan untuk mengusir roh jahat dan berdoa untuk kesehatan serta kemakmuran rakyat. Saat ini, festival tersebut masih memiliki arti penting dalam kehidupan spiritual penduduk Kyoto, sekaligus menjadi kesempatan untuk menghormati budaya dan tradisi Jepang yang telah lama berdiri.
  • Awa Odori (阿波踊り) - Tokushima (Pertengahan Agustus): Sebuah festival tari besar dengan ribuan peserta menari mengikuti irama tradisional, menarik banyak wisatawan.

  • Sapporo Snow Festival (さっぽろ雪まつり) - Sapporo (Februari): Festival salju terkenal dengan patung salju dan esnya yang besar dan rumit.

  • Nebuta Matsuri (ねぶた祭り) - Aomori (Agustus): Sebuah festival yang menampilkan parade lentera raksasa bercahaya berbentuk tokoh sejarah dan mitologi, sangat mengesankan dan meriah.

  • Kanda Matsuri (神田祭) - Tokyo (Mei, diadakan pada tahun ganjil): Salah satu dari tiga festival terbesar di Tokyo, terkenal dengan parade kuil portabel (Mikoshi) yang sangat berat.

Ini hanyalah beberapa contoh representatif. Jepang memiliki banyak festival tradisional lainnya, masing-masing membawa makna budaya dan sejarahnya sendiri, yang mencerminkan kehidupan spiritual masyarakat Jepang yang kaya. Jika Anda berencana bepergian ke Jepang, pastikan untuk meneliti festival yang berlangsung selama kunjungan Anda untuk pengalaman budaya yang tak terlupakan.

タグ: #JapanSIM #eSIM #SoftBank5G
シェア: X f LINE